
Penyebaran ajaran teosofi lumayan luasnya, dan memasuki perbagai lapisan masyarakat. Banyak pemeluk islam, kristen dah hindu yang terjaring. Juga orang Cina penganut Konghucu dan mereka yang menganut kejawen. Kaum teosofis amat agresif dalam mencari pengikut terutama dari kalangan muda terpelajar dan berbakat. Mereka juga memasuki golongan priyayi.
Barang kali cukup menarik untuk dikaji pikiran-pikiran RA Kartini tentang agama sebagaimana tertulis dalam surat-suratnya kepada kenalan-kenalannya di negri Belanda.
Tahun-tahun datang dan mereka (tahun-tahun,RS) kemudian pergi...Kami bernama orang-orang Islam karena kami keturunan oran islam, dan kami adalah orang-orang islam hanya pada sebutan belaka, tidak lebih. Tuhan Allah bagi kami adalah seruan, adalah bunyi tanpa makna. Demikian kami hdup terus sampai terbitlah matahari yang akan mendatangkan pergulingan di dalam kehidupan rohani kami. ( Surat 15 Agustus 1902 kepada E.C. Abendanon ).
Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan, dan agama itu bisa di peluk baik sebagai nasrani maupun Islam dan lain-lain ( Surat 31 Januari 1903 )
Selalu menurut paham dan pengertian kami, inti segala agama adalah Kebajikan, yang membuat semua agama menjadi baik dan indah. Tapi duh: Orang-orang ini apakah yang telah kalian buat atasnya ( maksudnya Kebajikan, RS )
Anak-anak dari satu Bapak, dasar segala agama dara dan saudari jadinya harus saling cinta mencintai, artinya tunjang menunjang, bertolong-tolongan. Tolong menolong dan tunjang menunjang, cinta mencintai, itulah nada dasar segala agama. ( Surat 21 Juli 1902 kepada Ny. Van Kol )
Dari kutipan surat RA Kartini tersebut kita menjumpai persamaan pendiriannya dengan Labberton. Labberton mengatakan, sifat-sifat agama adalah sama yaitu cinta pada sesama. Sedangkan RA Kartini menggunakan istilah " nada dasar" agama-agama adalah sama yaitu cinta kepada sesama dan tolong menolong. Lagi-lagi keduanya melihat agama dalam dimensi tunggal, yaitu hubungan antara manusia dengan manusia saja. Keduanya mengabaikan dimensi ajaran agama yaitu hubungan antara manusia dengan Allah ( hablum minallah )
Kebajikan dengan "K" besar ( sebagaimana Nurcholis Majid manulis Kebenaran dengan "K" besar ) sering digunakan Kartini dalam surat-suratnya.
Kaum teosofi juga banyak yang berbuat sama. Menjadi pertanyaan kini: Apakah Kebajikan dengan "K" besar dengan Kebenaran dengan "K" besar itu adalah menjkadi tujuan hidup atau ultimate goal kehidupan kita ? Jika ya, tentu konsep ideologi yang mereka anut dengan paham ilmu kalam yang kita anut amat berbeda. Ultimate goal kita adalah li mardhatillah, keridhoan Allah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar